Pemuda LDII Samarinda Belajar Kemandirian Bisnis Cuan

SAMARINDA – Hinar binar Festival Pasanggiri Persinas ASAD merebak ke seluruh sudut gelanggang padepokan Persinas ASAD yang bertempat di Kelurahan Lokbahu, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda.

Festival Pasanggiri Persinas ASAD yang diikuti sekitar 1000 peserta dari 6 kontingen menghasilkan suara riuh diikuti sorakan dukungan dari para penonton.

Tetapi kali ini, perhatian tidak hanya tertuju pada perlombaan Pasanggiri. Salah satu hal menarik lainnya adalah diselenggarakannya bazar. Kesempatan ini terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat yang dalam praktiknya didominasi oleh generasi muda. Penyelenggaraan bazar memicu semangat para generasi penerus mengembangkan kemandiriannya berupa berjualan saat event festival ini.

Salah satunya adalah Ahmad Sarjono yang akrab dipanggil Jono, berlatar belakang pekerja kantoran yang memutuskan memulai hal baru yaitu berjualan minuman bertajuk “Es Coklat Mas Boy” di bazar festival pasanggiri. Ilmu yang didapatnya sebagai pekerja kantor tidak membatasinya mengimplementasikan di tempat itu saja. Ia merasa bahwa ilmu marketing yang dapat ia gunakan membuka peluang usaha yang baru sebagai sampingan.

Selama ini bisnis jualan es kerap dipandang sebelah mata, selain dianggap kelas rendahan, banyak yang memandang kurang menguntungkan dari aspek bisnis. Padahal tidak demikian, berawal dari pemikiran Jono bahwa uang receh tidak bisa diremehkan begitu saja. Seperti kata pepatah sesuatu yang besar, diawali dengan sesuatu yang kecil.

Remaja LDII Samarinda tengah belajar kemandirian dengan membuka lapak bisnis mendapatkan cuan. Foto: LINES
Remaja LDII Samarinda tengah belajar kemandirian dengan membuka lapak bisnis mendapatkan cuan. Foto: LINES

Masuknya Jono ke dunia bisnis menyadarkannya bahwa pekerjaan yang dianggap “nyaman” bukanlah hanya PNS atau pekerjaan Kantoran. Karena mengembangkan passion-nya, akhirnya ia memulai berani ambil risiko.

Langkah awal dalam memulai bisnis minumannya ini dengan menargetkan penjualan 90 gelas. Tetapi, Dalam kurun waktu kurang dari 3 jam dagangannya sudah habis terjual. Tentunya penjualan hari ini memberikan kepuasan bagi Jono.

“Kami merasa puas dengan apa yang didapat hari ini. Tujuan utama kami kesini adalah untuk melatih mental diri agar bisa memulai bisnis dan alhamdulillah mendapat respons baik dari pelanggan kami”.

Selain Jono, kesempatan serupa juga banyak digunakan oleh beberapa pihak untuk mencoba keberuntungannya dalam berjualan di Event Bazar kali ini, tak terkecuali muda-mudi LDII Pimpinan Anak Cabang (PAC) Lok Bahu, mereka memanfaatkan event festival pasanggiri ini untuk berjualan dengan konsepnya yakni “WarunKaca” yang merupakan kepanjangan dari Warung Muda Mudi Karang Paci A.

Dengan diketuai oleh Garin, mereka bermodalkan iuran muda-mudi serta donatur dari pengurus setempat. Mereka antusias dalam menjalankan bisnisnya karena baginya hal ini selain mendapat keuntungan juga menjadi sarana membangun kemampuan kemandirian.

Dengan modal awal 300 ribu, mereka meraup keuntungan dua kali lipat yang mana hasil keuntungan penjualan mereka diputar untuk modal usaha lagi. “Modal yang diputar itu berubah. Paling tingginya kami bisa meraih 800ribu di setiap kali penjualan”.

Garin menyebutkan, terjunnya para generasi muda untuk mencoba berjualan, memberikan mereka bekal untuk merintis usaha yang lebih besar di usia yang lebih matang.

Membawa biduk haluan para calon pengusaha, Garin sudah menyiapkan konsep bagaimana mengembangkan usahanya ini sehingga tidak hanya memberi manfaat bagi tiap muda-mudi itu sendiri, namun juga bagi warga sekitar. Sekilas konsep yang dilaksanakan Garin dkk yaitu dengan memberi kesempatan kepada warga sekitar yang memiliki produk UMKM untuk menitipkan produknya di lapak mereka.

“Sistemnya kami menyebarkan informasi kapan kami akan membuka lapak, kemudian warga sekitar yang memiliki produk UMKM dan ingin bekerja sama ikut menitipkan produknya dengan berkomunikasi langsung kepada penanggung jawab kami. Dalam sistem penitipannya, kami minta foto produk dan harga, kemudian kami me-mark up harganya.”

Dinamika usaha jualan yang ditempuh Garin dkk tidaklah mudah. Kegagalan dan kerugian pun lumrah mereka hadapi.
“Kemarin omset paling rendah, pada saat pengajian rutin bulanan. Yang kebetulan saat itu hujan sedangkan yang kami jual adalah produk es, sehingga peminatnya tidak banyak alhasil kami mengalami kerugian”. Hal tersebut tentu tidak menjadi hambatan bagi mereka untuk terus berkembang menjalani apa yang sudah mereka mulai.

Intinya, dalam memulai usaha apa pun konsistensi diri diperlukan dalam menjalankannya. Banyak inspirasi usaha yang dapat dijadikan contoh dan motivasi diri. Seperti halnya yang disampaikan Jono.

“Terinspirasi boleh, namun jangan langsung mengambil mentah-mentah, selesaikan titik aman diri sendiri dahulu. Kemudian mulai mencari passion diri lalu beranilah keluar dari zona nyaman,”. Selaras dengan slogan yang lumrah dimasyarakat yaitu “Amati, Tiru, Modifikasi”.

Kini, Jono dan Generasi Muda LDII PAC Lok Bahu telah berani mencoba hal baru. Berangkat dari tekad bersama untuk memulai usaha yang kerap di anggap receh namun tidak recehan.
(Rizkina Aulia/LINES)

9 komentar pada “Pemuda LDII Samarinda Belajar Kemandirian Bisnis Cuan

  • 7 November 2022 pada 10:40 pm
    Permalink

    Sangat menginspirasi untuk muda mudi zaman noowww

    Balas
  • 7 November 2022 pada 10:55 pm
    Permalink

    Semangat Pemuda LDII

    Balas
  • 7 November 2022 pada 11:04 pm
    Permalink

    😍😍👏👏👏👏

    Balas
  • 7 November 2022 pada 11:22 pm
    Permalink

    Acara nya sangat meriah

    Balas
  • 8 November 2022 pada 1:26 am
    Permalink

    Masya Allah berkah selalu untuk usaha nya,. Kemarin beli rasanya enak harga murah tapi kualitasnya luar biasa 🤗😍😍

    Balas
  • 8 November 2022 pada 3:13 am
    Permalink

    Kok ga nampak yaa komentar orang orang

    Balas
  • 8 November 2022 pada 6:15 am
    Permalink

    Alhamdulillah tetap semangat untuk masa depan.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *