
SAMARINDA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius bagi kelestarian ekosistem, kualitas udara, serta kesehatan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Menyikapi kondisi tersebut, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPW LDII) Kalimantan Timur, Prof. Dr. Ir. H. Krishna Purnawan Candra, M.S., menyerukan penguatan mitigasi terpadu dan perubahan pola pikir masyarakat dalam pengelolaan lahan.
Menurut Prof. Candra, persoalan karhutla di Indonesia kerap berulang saat musim kemarau tiba, baik akibat faktor iklim kering maupun kelalaian manusia dalam pembukaan lahan perkebunan. Di Kalimantan Timur sendiri, kewaspadaan harus dilipatgandakan mengingat posisi strategis Benua Etam sebagai benteng ekologis sekaligus kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
”Kebakaran hutan dan lahan bukan hanya persoalan hilangnya vegetasi, melainkan membawa dampak domino terhadap kabut asap, gangguan pernapasan, kerugian ekonomi, hingga ancaman terhadap keanekaragaman hayati,” ungkap Prof. Candra. “Di Kalimantan Timur, karakteristik lahan gambut dan semak belukar di beberapa titik membutuhkan pengawasan ekstra. Sekali api masuk ke bawah permukaan gambut, pemadamannya akan jauh lebih sulit.”
LDII Kaltim secara konsisten mendorong warganya dan masyarakat luas untuk menghentikan kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar. Pendekatan pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) dinilai harus menjadi standar baku, baik bagi korporasi maupun petani rakyat.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari implementasi nilai keimanan. Melalui program pembinaan umat dan gerakan dakwah berwawasan lingkungan (Go Green), LDII terus mengedukasi warga agar proaktif menjaga ruang hijau, menanam pohon, serta tidak memicu titik api sekecil apa pun di musim kering.
”Menjaga bumi dan lingkungan adalah amanah religius yang harus dijalankan bersama. Penegakan hukum yang tegas terhadap pihak-pihak yang sengaja membakar lahan tentu sangat penting, namun pencegahan berbasis komunitas di tingkat tapak adalah kunci utama agar hotspot tidak meluas,” pungkasnya.
DPW LDII Kaltim mengimbau seluruh warga LDII di berbagai tingkatan kepengurusan hingga majelis taklim untuk menjadi teladan dalam menjaga lingkungan. Warga diminta secara aktif tidak melakukan pembakaran sampah atau lahan secara sembarangan, meningkatkan kewaspadaan di lingkungan masing-masing selama musim kemarau, serta proaktif berkoordinasi dengan aparat setempat dan pihak terkait apabila menjumpai potensi titik api di sekitarnya.
