Kaltim

Essai: Hikmah

Perubahan adalah keniscayaan. Banyak yang belum menyadari, bahwa setiap hari kita menjalani hari yang berbeda, walau dengan nama dan atribut yang sama. Hari terus berubah, dari kemarin menjadi sekarang, selanjutnya sekarang menuju besok. Acap tidak disadari, karena banyak hal yang mewarnai. Bahkan kadang melenakan. Menipu. Tau – tau usia sudah berapa dan badan menua. Dari hari lahirlah minggu, kemudian muncul bulan dan terkumpul dalam tahun. Dari tahun lahir windu, juga ada yang jauh disebut abad. Karenanya, Sang Guru Bijak sering mengingatkan, yang terpenting dari itu semua adalah bagaimana kita bersikap menghadapi perubahan; sabar-mengalir atau justru berontak-menolak.

Kisah yang diriwayatkan Imam Bukhary ini, semoga menambah cakrawala dalam menghadapi perubahan yang datang bersama putaran zaman. Segala sesuatu memang tidak semuanya seperti yang kita harapkan. Walaupun sudah diusahakan. Namun percayalah, ada cara indah untuk menghadapinya. Yaitu sabar, sebagai kuncinya. Ingatlah warisan tua indah ini.

عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِىٍّ قَالَ أَتَيْنَا أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنَ الْحَجَّاجِ فَقَالَ « اصْبِرُوا ، فَإِنَّهُ لاَ يَأْتِى عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلاَّ الَّذِى بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ » . سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ – صلى الله عليه وسلم –

Dari Az Zubair bin ‘Adiy, ia berkata, “Kami pernah mendatangi Anas bin Malik. Kami mengadukan tentang Al-Hajjaj pada beliau. Anas pun mengatakan, “Sabarlah, karena tidaklah datang suatu zaman melainkan keadaan setelahnya lebih jelek dari sebelumnya sampai kalian bertemu dengan Rabb kalian. Aku mendengar wasiat ini dari Nabi kalian.” (Rowahul Bukhary)

Bagi sebagian orang, karena tidak bisa dihindari, ada yang memperlakukan perubahan sebagai cobaan. Hasilnya, lebih siap dan lebih memahami arti perubahan beserta konsekuensinya. Hal ini sejalan dengan firman indah Allah dalam Kitabnya.

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُون

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (Al-Baqoroh 155 – 156).

Prijosaksono dalam Create Your Own Cheese menginspirasi untuk menyiasati perubahan, kemudian menikmati indahnya perubahan tersebut. Bahkan memberi motivasi dengan kemampuan untuk menciptakan realitas baru seperti yang manusia inginkan dari setiap episode perubahan. Caranya? Dengan mengatasi ketakutan sebagai jawaban atas ayat 155 di atas. Ketika kita mengalami krisis atau perubahan, satu hal yang kita takutkan adalah ketidakpastian. Namun, yang pasti adalah kita tidak akan keluar dari krisis jika kita tetap diam. Maka kita harus tetap bergerak. Ketika mulai melangkah, kita harus yakin bahwa ada harapan di depan sana. Jika kita sudah tidak punya pengharapan dan akhirnya tidak melakukan apa-apa, sama artinya kita sudah gagal dan mati. Dan untuk hasil yang menakjubkan, ingatlah selalu untuk bergerak dengan penuh kesabaran. Seperti dilukiskan dalam dialog berikut ini.

Seorang pemuda datang tergopoh-gopoh kepada Sang Guru Bijak dan bertanya, “Kira-kira saya membutuhkan berapa waktu untuk memperoleh penerangan batin (hikmah)?”

Sang Guru Bijak itu menjawab, “Sepuluh tahun.”

Pemuda  itu  terkejut.  “Begitu  lamakah?”  tanyanya tidak percaya.

Sang Guru Bijak menerangkan, “Tidak, saya keliru. Engkau  membutuhkan dua puluh tahun.”

Orang muda itu bertanya, “Mengapa Guru lipatkan dua?”

Sang Guru Bijak itu berkata, “Coba pikirkan, dalam hal ini mungkin engkau membutuhkan tiga puluh tahun.”

Kebanyakan orang tidak pernah belajar sesuatu, karena mereka menggenggam  segala  sesuatu terlalu cepat.  Bahkan banyak insan tidak pernah faham karena memperoleh sesuatunya terlalu mudah dan gampang. Kebijaksanaan bukanlah suatu titik sampai akan tetapi suatu cara berjalan. Hikmah bukanlah sekedar mengerti kata dan tanda penunjuk jalan. Hikmah adalah proses menikmati keindahan dan kesempurnaan dibalik kata dan tanda. Oleh karenanya, janganlah berjalan  terlalu  cepat. Berjalanlah dengan penuh kesabaran dan kewaspadaan. Seiring waktu, sesuai tujuan. Sebab, kala engkau berjalan terlalu cepat,  engkau tidak akan melihat pemandangan yang indah. Dan lepaslah semua hikmah.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱصْبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (menyambunglah) dan bertakwalah kalian kepada Allah, supaya kalian beruntung.” (QS Ali Imran: 200).

 

::

Penulis: Faizunal A. Abdillah
Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.

Ilustrasi: Ihsan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *